“Bahagianya Manusia”

“Segala persoalan dalam hidup ini sesungguhnya tidak untuk menguji seberapa besar kekuatan dirimu. Tetapi, menguji seberapa besar kesungguhanmu dalam meminta pertolongan Allah.” –Ibnu Qayyim

Kita hidup dimana sebuah roda kehidupan selalu berputar. Hal itu terkadang membuat kita menuju ke arah obsesi yang sifatnya fanatik. Segala sesuatu yang dipijakkan hanyalah kehidupan dunia yang seakan-akan membuat kita selalu merasa bahwa inilah satu-satunya jendela kehidupan yang nyata. Ketika seseorang telah terlepas dari genggaman obsesinya, disitulah ia akan menyesal dan selalu menyalahkan segala yang ada. Ia tidak ingat bahwasanya ia hidup dan diciptakan untuk mengenal siapa yang telah menciptakannya. Ia lupa dan seolah-olah ia mampu membuat dinamika kehidupan seorang diri.

Manusia memang tidak pernah lepas dari hawa nafsunya. Ia selalu mendominasikan diri bahwa sesuatu yang menjadi pencapaian utamanya adalah dunia. Tatkala ia terjerat dalam lubang hitam yang membuatnya seakan-akan tidak dapat memaknai kehidupan yang sebenarnya. Semuanya penuh dengan kesenangan, pencapaian, dan keabadian. Pada hakikatnya, manusia yang selalu tertuju dengan sifat keduniawiannya akan merasa bahwa; di masa lalu dengan penuh penyesalan dengan apa yang terjadi, di masa depan selalu mengkhawatirkan sesuatu yang belum terjadi disertai kecemasan yang begitu dalam. Itulah mengapa jika manusia tidak mendapatkan kebahagiaan, baik secara lahiriyah maupun batiniyah.

“Tugas kita sekarang adalah bukan mengkambinghitamkan masa lalu, melainkan memusatkan perhatian kepada masa yang akan datang” – John F. Kennedy

Manusia dikaitkan bahkan mengenal suatu keadaan, yang dimaksud adalah masa dimana manusia “kembali”. Jika demikian, maka apa salahnya jika tidak mencoba untuk kembali menjadi manusia yang mengingat dengan Penciptanya, segala sesuatu dipusatkan kembali untuk menjadi manusia yang insan. Manusia yang memaknai dan menerapkan wawasan cinta kepada Tuhannya. Dengan jalan itulah, maka manusia dapat merasakan kebahagiaan yang sejatinya. Bukan dalam hal untuk mengedepankan kebahagiaan yang bersifat fana, namun bahagia dalam konsep untuk mencintai Tuhannya. Karena bahagia merupakan dimana seseorang dapat memaknai keadaan dengan perasaan yang nyaman, tentram yang membuatnya tidak merasakan beban dan berada dalam kualitas hidup yang seimbang, baik susah maupun senang, itulah proses menuju kebahagiaan yang hakiki yang selalu didampingi oleh kasih sayang dan rahmat-Nya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close